Sarikata.com Intisari Cerita Indonesia

19Dec/051

Teluh Kenikmatan Maya

Sudah sebulan ini, Kamerad, aku keranjingan teluh kenikmatan kalau bahasa primbonnya, dan bahasa gaul anak anak ABG nya sex phone alias ngesek lewat telepon. Koq bisa ya, Kamerad, aku juga gak ngerti. Awalnya sih saat Kamerad kasih aku nomor telepon anak ABG itu lho, lalu aku telepon dia. Eh, koq ngobrolnya vulgar banget lebih vulgar disbanding aku nonton blue film nya Ayu Ashari. Awalnya kupikir, sex phone itu benar benar pemborosan waktu �n uang, eh, ternyata benar. Memang benar kata Kamerad ketika aku chatting dulu. Lebih banyak madorotnya daripada maslahatnya. Tapi, Kamerad, yang ini beda. Kayaknya break event point dech, jadi aku lebih percaya dunialah yang kian absurd.

Juga aku pikir sebelum lari ke �teluh kenikmatan� yang telah menjadi hal biasa bagi ABG sekarang, kan semua berawal dari chating ya, Kamerad. Coba Kamerad simak pembicaraan pertamaku sama si Gadis Indo ini.

Dwipanusantara: Halloo, benarkan ini Oppiexs�
Oppiexs: Iya saying, saying lagi ngapain�(ia sambil mendesah)

Bayangin, Kamerad, gimana perasaanku tak terteluh kenikmatan suara gadis belasan tahun di ujung telepon sana. Kamerad, tentu pernah mendengarnya kan?

Dwipanusantara: Aku lagi ngebayangin kamu sayang, kamu sedang pakai baju apa sayang?
Oppiexs: Masa sih sayang, aku gak pake apa apa sekarang sayang�
Dwipanusantara: Lhah, apa gak kedinginan kamu, entar digigit nyamuk lho�
Oppiexs: Kalau kedinginan kan tinggal��.., kamu mau sayang ngangetin badan aku?

Kamerad, pasti tahu kan pembicaraan selanjutnya? Ia dengan desahannya bercerita bagaimana cara memuaskan birahi laki laki, dan ketika aku gak percaya ia malah menantangku untuk melakukan pembuktian. Akhir dari pembicaraanku 20 menit itu, Kamerad, ia sms aku yang isinya kasih alamat rumah. Dan ada pesan singkat dalam tanda kutip �Kita ketemu di hotel aja� kamu pasti aku puasin ntar . Lalu dia bilang kalau bisa besok sehabis dia pulang sekolah aku disuruh jemput. Ia juga kasih alamat sekolahnya, lengkap.

Kamerad, tahu gak ketika aku intip dari jauh di lokasi sekolah dia? Dia lebih cantik disbanding photo yang dikirimkan lewat email Kamerad. Selain lebih cantik, putih dan sipit, ia juga mengenakan pakaian super sexy dengan seragam abu abunya. Di samping dia ada empat orang gadis belasan tahun lainnya, Kamerad. Aku tetap menunggu di pintu keluar sekolah. Dengan tenang tentunya karena ia belum pernah lihat tampang aku. Ia bersama empat temannya jalan dengan santainya dari halaman sekolahnya menuju pintu keluar, sesekali aku lihat dia menebar mata elangnya, mungkin untuk menangkap sosokku yang kehalang kaca hitam mobil bututku. Aku tak bilang kalau bawa mobil, jadi pasti dia bingung. Hp ku berdering kemudian mati, missed calls, dan aku lihat ternyata nomor dia. Aku balik menelponnya.

Dwipanusantara: Sayang, kamu di situ aja, aku pengin sedikit lama melihat keseksianmu�
Oppiexs: kamu di mana sekarang sayang�, aku dah gak sabar nich. Temen temen aku gak ikut koq, karena mereka juga sedang janjian. Sama seperti kita.

Kamerad, rasanya gak perlu aku tulis lagi pembicaraan �n aksi ku selanjutnya. Kamerad pasti bisa menebaknya. Dan Kamerad tahu kan ini adalah yang keberapa kalinya aku ketemu gadis sekolahan yang awalnya asyik lewat teluh kenikmatannya? Jadi, Kamerad, kalau berbicara tentang hikmah, PSSI kalah 8 0 saja ada hikmahnya. Bom meledak di Bali ada hikmahnya. Sex phone ternyata juga banyak hikmahnya. Jika Kamerad seorang penulis seperti aku, tentu Kamerad bisa memanfaatkan �teluh kenikmatan� untuk wawancara langsung dengan mereka sebagai nara sumber, lebih lebih ketika Kamerad cari yang dari luar negeri atau di daerah selain Jakarta.

Dari perkelanaan ini, Kamerad, akhirnya saya setuju dengan pendapatmu yang mengatakan aktivitas chating ini 95% orientasinya ke sex. Kenapa, karena setelah ngegombal di Yahoo Messenger ataupun MIRC biasanya lari ke aktivitas sex phone. Setelahnya, ya boleh kita tebak, pasti akan kontak fisik.

Aku juga sependapat ketika Kamerad bilang itu lebih banyak mudhorotnya ketimbang hikmah, kalau kita berpikir jernih tentunya. Tidak aku pungkiri, Kamerad, ternyata pikiran jernihku sudah kalah dengan �teluh kenikmatan� yang dikirim mereka.

Memang aku mendapat kemudahan untuk mengumpulkan bahan, entah sekedar untuk buat cerpen sangat pendek atau mau terbitin buku walau secara materi selalu akan kekurangan sebagai seorang penulis. Ada yang masih mengganjal pikiranku, Kamerad, apa mereka itu hanya cukup puas dengan mengejar dan mendapatkan kenikmatan saja ya, buktinya mereka tak berharap aku kasih uang. Mereka justru bangga ketika bisa buktikan omongannya di telepon. Ya, secara materi sih mereka termasuk golongan kelas kakap, minimal menengah yang punya mobil dalam keluarga itu dua. Tak sedikit juga yang ternyata sebagian dari mereka yang dalam tanda kutip pas pasan, menggunakan chatting dan sex phone untuk mengisi kocek mereka. Keluarga dan kehidupan alasannya.

Kamerad, selain saat ini aku masih berkomunikasi dengan Oppiex yang selalu khas dengan teluh kenikmatannya itu, aku juga diteluh oleh teman teman Oppiexs. Ada 6 nomor handphone dan alamat rumah gadis gadis cantik belasan tahun yang sipit itu. Kualahan aku, Kamerad. Apa aku sudahin saja dengan cara aku mengganti sim card? Tapi aku membutuhkannya sekaligus aksi aksi mereka ini semakin membuatku bingung pada dunia dan kehidupan ini. Begitu mudahnya mereka mengumbar teluh kenikmatan dan fisiknya. Apa yang mereka cari? Ya sudah aku pakai Id dan Sim Card baru aja�

Bintaro, 12 Maret 2005

========================================
Pengirim : tarsihekaputra
========================================

Popularity: 6% [?]

Related posts:

  1. Bayangan teman dunia maya
  2. Kejamnya Maya
  3. Kenikmatan Dunya
  4. Tuhan dan Kebohongan
  5. Jembatan Maya
  6. Maya 2
  7. Maya 1
  8. Maya
  9. Komunis
  10. Cinta dalam dunia maya
Filed under: Cerpen Leave a comment
Comments (1) Trackbacks (0)

Leave a comment


No trackbacks yet.